June 4, 2012

The Raid: Redemption (2012)


Setelah film Merantau tahun 2009 silam, Gareth Evans yang berhasil mengangkat industri perfilman Indonesia. Mengangkat seni beladiri pencak silat ke dalam film, tentu sebuah tindakan sangat berani. Dan sekarang tahun 2012 Indonesia kembali dibuatnya senang dengan The Raid: Redemption.

The Raid: Redemption menjadi buah bibir di dunia maupun lokal. Setelah film ini yang berhasil meraih penghargaan festival seperti Sundance, TIFF, SXSW dan MOMA ND/NF. Pada awalnya di Indonesia film ini dirilis di INAFFF 2011. Kemudian dirilis secara massal pada bulan Maret 2012.

Film ini berkisah tentang sekelompok pasukan yang dipimpin oleh Jaka (Joe Taslim) beranggotakan segerombolan yang terlatih seperti Rama (Iko Uwais), Letnan Wahyu (Peter Gruno), Bowo (Tegar Satrya) yang ditugaskan untuk menyerbu apartemen berisi kumpulan kriminal kelas berat seperti Mad Dog (Yayan Ruhian) dan Andi (Donny Alamsyah). Dari lantai dasar sampai atas, levelnya semakin meningkat. Sampai akhirnya pada lantai paling atas mereka harus menghadapi bosnya yaitu Tama (Ray Sahetapy).

Dibuka dengan adegan Rama yang sedang sholat sebelum bertempur setelah itu tanpa basa-basi kita langsung dipaksa diajak The Raid untuk menyusuri apartemen suram tersebut. Mungkin anda tidak akan terlalu mempermasalahkan premisnya yang simpel itu. Seketika aksi baku hantam dan tembak-tembakkannya datang, mungkin anda sudah lupa dengan ceritanya. Koreografi pertarungan yang cantik, memukau dan memanjakan mata. Semua pertarungan yang menambah kenikmatan menonton film laga ada disini, mulai dari tangan kosong, jual beli peluru, senjata tajam, satu lawan satu, satu lawan banyak. Jujur, The Raid adalah film laga dengan koreografi terbaik yang pernah saya tonton sampai saya menulis review ini.

Semua kesenangan menonton laga tersebut juga tidak lepas dari scoring-nya yang apik. Diracik oleh Aria Prayogi dan Fajar Yuskemal untuk peredaran di Indonesia. Sedangkan peredaran di internasional dibuat oleh Mike Shinoda personel Linkin Park. Selain cerita tentang penyerbuan maut tersebut, The Raid juga ada beberapa intrik disela-sela aksi film ini seperti konflik antara Rama dan Bowo misalnya atau Rama dan Andi. Dan untungnya Gareth tidak mau berlama-lama terlena dengan intriknya itu.

Dari segelintir pujian diatas, The Raid bukanlah film yang sesempurna itu. The Raid juga mempunyai beberapa kelemahan selain ceritanya yang dangkal itu yaitu dari segi akting beberapa aktornya. Pelafalan dialog demi dialog yang diucapkan yang agak kaku dan penggunaan dialognya yang terlalu baku. Satu-satunya jajaran cast yang kualitas aktingnya sangat kelihatan adalah Ray Sahetapy sebagai Tama. Dan untungnya segala kekurangan itu ditutup dengan bagus oleh koreografinya yang menawan.

Dan kabarnya The Raid akan dibuat sekuelnya, Gareth Evans menjanjikan pada sekuelnya nanti akan banyak aksi kejar-kejaran menggunakan mobil, dengan judul Berandal. Sekali lagi harus saya pertegas, ini bukanlah film keluaran Hollywood atau manapun. Ini adalah film action dari Indonesia yang brutal, sadis, penuh aksi dan lebih ada gregetnya! So, masih mau bilang kalau film Indonesia tidak ada yang berkualitas? Itu artinya anda belum menonton The Raid.

8/10

No comments:

Post a Comment