October 30, 2013

The Act of Killing (2012)

Peristiwa G30S/PKI adalah salah satu peristiwa kelam yang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia. Sampai-sampai film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer pada masa orde baru dijadikan sebagai film yang wajib diputar setiap tahunnya pada tanggal 30 September di stasiun televisi Indonesia. Dan sekarang sutradara bernama Joshua Oppenheimer mencoba menghadirkan kembali seperti apa dibalik peristiwa pahit tersebut lewat The Act of Killing.

The Act of Killing atau yang mempunyai judul Indonesia, Jagal, sebuah film dokumenter yang mengisahkan tentang Anwar Congo dan kawan-kawan, mereka yang dulunya tahun 1965 di Medan adalah tukang karcis bioskop sekaligus preman – dalam film ini mereka sering menyebutnya free man – yang membantai orang-orang yang diyakini PKI. Mereka menceritakan bagaimana dulu mereka membantai, membunuh, menyiksa korban-korban mereka, hingga sampai melakukan reka ulang kejadiannya. Bagaimana cara dan metode membunuh mereka disampaikan dengan rasa bangga oleh Anwar dkk, seakan seperti seorang superhero.

Secara terang-terangan dan dengan rasa gembira serta bangga mereka memperlihatkan bagaimana dulu mereka menghabisi orang. Bahkan mereka mengatakan ketika melakukan perbuatan tersebut sambil menari dan menyanyi. Dan mereka mengatakan bahwa cara yang mereka lakukan tersebut terinspirasi dari film-film gangster Hollywood. Lengkap dengan replika alat-alat yang mereka pakai dulu untuk membunuh mangsa tanpa ampun seperti, pisau, tali kawat dan kayu. Ya, ini sadis, ini kejam. The Act of Killing memang tidak ada adegan berdarah-darah yang kelewat batas. Tapi dengan hanya mendengar cerita dan melihat reka ulang mereka, sudah cukup untuk bisa membayangkan seberapa sadis dan kejamnya mereka dulu.

Beberapa kali juga rekonstruksi kejadiannya terasa begitu surreal. Dan pertanyaan terbesar yang terbesit di pikiran saya adalah: bagaimana bisa para pembunuh-pembunuh ini hidup bebas tidak terkena hukum? The Act of Killing juga tidak hanya mengenai peristiwa tersebut. Disini juga dihadirkan seperti satir sosial bagaimana para petinggi-petinggi yang terlibat suap dan berbicara vulgar. Disini juga sosok Anwar Congo yang dulunya tergambar sebagai seorang yang kejam, namun sekarang jauh dilubuk hatinya yang paling dalam  ada perasaan penyesalan, bersalah, dan takut atas apa yang dia perbuat dulu. Bahkan dia saja tidak tega melihat anak itik yang kakinya patah. Dia juga mengatakan, dia sering bermimpi buruk atas orang yang dulu pernah ia bunuh.

Secara keseluruhan The Act of Killing a.k.a. Jagal adalah sebuah film dokumenter sangat bagus. Joshua Oppenheimer sang sutradara mencoba mengungkapkan kebenaran sejarah Indonesia yang selama ini ditutup-tutupi, mencoba membuka mata dan hati para penontonnya bahwa inilah yang terjadi sebenarnya. Saya tidak peduli seberapa akurat film ini, tidak peduli siapa yang lebih kejam. Namun jelas, The Act of Killing adalah sajian dokumenter yang mengerikan, indah, dan emosional. Dan ini adalah film yang saya rasa harus ditonton orang Indonesia setidaknya satu kali.

9/10


4 comments:

  1. Masa saya download langsung di webnya gak bisa-_-

    ReplyDelete
  2. Sulit, gagal unduh Jagal dari www.actofkilling.com ? Hubungi anonymous@final-cut.dk, dapatkan DVD gratis untuk nobar.

    ReplyDelete
  3. Buat yang fesbukan, bisa juga menghubungi publisis film Jagal lewat inbox www.facebook.com/filmjagal

    Buat yang mau beli DVD-nya bisa lewat Komunitas Film di: http://komunitasfilm.org/dvd-film-the-act-of-killing-jagal/

    ReplyDelete