January 8, 2014

12 Years a Slave (2013)

“I don’t want to survive. I want to live.” – Solomon Northup

12 Years a Slave mengisahkan tentang Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) seorang kaum kulit hitam yang memiliki talenta dalam hal musik ini menyebut dirinya free man. Suatu hari dia diculik lalu dijual beli sebagai budak. Lantas seorang pemilik perkebunan yang baik bernama Ford (Benedict Cumberbacth) pun membelinya. Namun justru kepintarannya itu membawakannya masalah kepada Tibeats (Paul Dano). Khawatir sesuatu terjadi pada Solomon, dia pun dijual kembali. Kali ini dibeli oleh Edwin Epps (Michael Fassbender), seorang yang kejam memperlakukan budaknya. Disana Solomon pun harus berjuang memperjuangkan keadilannya.

Steve McQueen, dialah dalang dibalik film ini. Setelah Shame dua tahun lalu yang tidak diperhatikan Oscar padahal punya kualitas yang bagus. Kali ini dengan membawa 12 Years a Slave, dia sepertinya ingin membalasnya dan membuktikan kembali bahwa filmnya memang layak diperhitungkan. Sekarang dia mengangkat cerita berdasarkan dari kisah nyata yang tertulis dalam autobiografi karya Solomon Northup yang screenplay-nya ditulis oleh John Ridley. Cerita tentang rasis dan perbudakan memang menjadi daya tarik sendiri, apalagi untuk orang asli USA sana. Ini seperti membuka kembali luka lama yang perih. Seperti halnya film tentang perbudakan kebanyakan, 12 Years a Slave juga menghadirkan perilaku kejam nan sadis ras kulis putih kepada kaum kulit hitam. Bentuk-bentuk siksaan yang diperlihatkan cukup eksplisit, mengeksploitasi fisik dengan brutal hingga menyisakan luka yang mendalam secara psikologis.

Punya banyak adegan penyiksaan yang diperlihat secara gamblang dan frontal; pencambukan, gantung leher, dan (maaf) bugil. McQueen tanpa ragu memperlihatkan itu semua secara jelas, semacam ingin mengatakan bahwa inilah gambaran polemik terjadi, dirasakan dan dialami dulu. Sedari awal film ini mencoba untuk mengikat penontonnya lewat fondasi  ceritanya yang kuat dan menarik itu. Dan ketika adegan demi adegan yang terasa memilukan itu hadir, kita seakan turut merasakan kesakitannya dan ikut bersimpati kepada mereka. Serta kita seakan ingin membebaskan kaum negro itu bebas dari perbudakan. Mengangkat isu kemanusian dengan nada serius memang daya utama tersendiri bagi film ini – tidak seperti Django Unchained-nya Quentin Tarantino yang nyeleneh itu. Aspek teknis di film ini pun turut membantu fondasi ceritanya. Mulai dari sinematografi, makeup, kostum hingga scoring-music gubahan Hans Zimmer yang pas di tempatkan dibagian-bagian yang menyayat hati itu.

Bicara divisi akting, Chiwetel Ejiofor sebagai tokoh utama bermain begitu meyakinkan melalui ekspresi, dilog dan gesturnya yang memperlihatkan kepedihan dengan baik. Lupita Nyong’o yang disini sebagai penampilan perdananya juga bermain bagus. Michael Fassbender yang perannya disini malah kayak psycho, tampil luar biasa dengan menyebalkan. Hingga peran-peran minor yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch, Brad Pitt, Paul Dano, Alfre Wooddard, Paul Giamatti dan Sarah Paulson, walau dalam durasi yang sempit mereka semua punya andil besar terhadap jalannya cerita.

Secara keseluruhan 12 Years a Slave adalah sebuah drama tentang slavery yang sangat bagus. Bagaimana kisah perbudakan itu diperlihatkan dengan apik oleh Steve McQueen lewat penyutradaraannya yang total. Apalagi dihuni oleh tim produksi yang luar biasa dan ensemble cast segudangnya yang bertalenta tinggi. Mengangkat kisah nyata 12 tahun Solomon Northup yang dipadatkan dalam 134 menit durasinya yang begitu memikat. Well, kita lihat saja dengan dijadikannya 12 Years a Slave sebagai frontrunner di ajang Oscar nanti, apakah akan membawa pulang piala?

8.5/10


2 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete