Pages

January 7, 2014

All Is Lost (2013)

“All is lost here… except for soul and body… that is, what’s left of them… and a half-day’s ration” – Our Man

All Is Lost mengisahkan tentang seorang pria (Robert Redfords) yang tengah berlayar sendirian di  Samudera Hindia. Suatu hari dia menemukan kapalnya berlubang dikarenakan benturan sebuah konteiner yang akhirnya mengakibatkan kebocoran. Tidak lama setelah itu datang badai besar menghantam kapalnya. Pada situasi ini dia harus berjuang sendirian untuk bertahan hidup di tengah laut dengan kondisi kapal yang rusak serta peralatan dan makananan yang seadanya.

Disutradarai oleh J. C. Chandor yang juga sekaligus menulis naskahnya. Film ini sedikit banyak mengingatkan saya dengan Life of Pi tahun lalu, yang mana sama-sama tentang kisah bertahan hidup di tengah laut. Namun All Is Lost jauh lebih sederhana dari film Ang Lee yang setia ditemani harimau Benggala itu. Disini Robert Redford benar-benar sendiri, hanya ditemani alam yang juga sekaligus menjadi musuh yang menakutkan. Alasan lain yang menjadikan film ini sederhana adalah minimnya dialog dalam durasi lebih dari satu setengah jamnnya, bahkan monolog sekalipun. Punya naskah cerita yang teliti dan cukup padat menghadirkan setiap detil-detil adegannya saja. Alur dan tempo ceritanya naik turun, masalah muncul tensi pun meningkat - ketika masalah reda tensi menurun, begitu seterusnya. Namun harus diakui pada paruh pertamanya All Is Lost kurang mampu mengikat emosi saya, dalam artian saya tidak terlalu bersimpati kepada si tokoh utama. Seperti di beberapa bagian yang sebenarnya berpotensi emosional, tidak terasa begitu simpatik. Dan saat paruh keduanya cukup berhasil mengikat emosi saya, apalagi saat ending-nya itu.

Andai saja All Is Lost punya latar belakang cerita yang lebih kuat, ataupun alasan kenapa dia bisa ada di tengah laut. Bisa saja All Is Lost menjadi sebuah sajian survival film yang berpotensi besar untuk menghadirkan penceritaan yang begitu simpatik dan heart-touching. Sekarang bicara teknis. Spesial efek tidak terlalu berbicara banyak disini, menggambarkan badai besar dengan begitu nyata. Scoring music-nya yang minimalis gubahan Alex Ebert beberapa kali disertai untuk usaha membantu emosionalitas. Sinematografi arahan G. DeMarco juga punya gambar-gambar yang cantik indah nan eksotis menangkap luasnya samudera. Dari divisi akting, jelas tidak ada lagi yang ingin dikomentari selain Robert Redfords. Pria yang sudah berusia 70 tahun ini bermain sangat bagus. Memberi penampilan dengan akting, ekspresi, gesture yang begitu meyakinkan. Transformasi psikis dan psikologis yang terlihat jelas. Di awal yang masih semangat berjuang dan pantang menyerah lama-kelamaan mulai berubah muncul kelelahan dan rasa putus asa.

Secara keseluruhan All Is Lost adalah sajian survival film yang cukup memuaskan. Punya jalan cerita yang sebenarnya berpotensi, andai saja bisa lebih diekplorasi. Namun ini tetap sajan tentang bertahan hidup yang lumayan dengan segala keminimalisannya dalam durasi 106 menit durasinya. Bagaimana penyutradaraan J. C. Chandor yang apik berpadu serasi dengan penampilan luar biasa dari aktor kawakan Robert Redfords.

7/10


2 comments:

  1. Tetep kurang sreg sama nggak adanya latar belakang karakter Robert Redford walaupun aktingnya keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, setuju, nggak ada latar belakangnya jadi terasa datar, kurang greget gimana gitu ya.

      Delete