January 15, 2014

Only God Forgives (2013)

“Time to meet the devil”

Only God Forgives mengisahkan tentang Julian (Ryan Gosling) seorang warga Amerika yang pindah ke Thailand lalu mengurus sebuah boxing club sekaligus tempat penyelundupan narkoba. Suatu hari dia mendapat kabar bahwa kakaknya, Billy (Tom Burke) telah tewas dibunuh. Kabar itu sampai ke teliga ibu mereka, Crystal (Kristin Scott Thomas), dia pun mencari pelaku pembunuhan tersebut dan mencoba melakukan balas dendam. Namun rencana itu tidak berjalan lancer, karena ada seorang polisi misterius bernama Chang (Vithaya Pansringarm) yang telah mengusut kasus ini.

Jika ditanya, film apa yang paling underrated tahun lalu? Only God Forgives. Film apa yang paling membagi dua kubu penontonnya? Only God Forgives. Film yang menandai kolaborasi kedua sutradara Nicholas Winding-Refn dan actor Ryan Gosling setelah Drive (2011) ini banyak mendapat reaksi negatif dari kritikus luar sana. Namun disisi lain juga mendapat pujian, terlebih lagi ketika Cannes tahun lalu, yang mana ketika film diputar mendapatkan dua reaksi, pertama, cemoohan; kedua, tepuk tangan meriah. Dan jujur saya termasuk pada kubu yang menyukainya. Well, naskahnya yang juga ditulis Winding-Refn ini berjalan dengan alur dan tempo yang lambat ditambah lagi dengan minimnya dialog. Yang saya paling saya sukai dari film ini adalah film ini surreal, arthouse, atau apalah itu namanya, pokoknya film ini nyeni banget. Dibalik tutur ceritanya yang mungkin bagi kritikus luar sana kosong itu ternyata film ini lebih berisi dan punya simbolisme tentang hubungan manusia dan tuhan yang dalam.  

Yang mana tokoh Chang disini digambarkan sebagai perwujudan tuhan sedangkan Julian digambarkan sebagai orang yang tengah dalam pencarian tuhan. Kisahnya pun memang tidak jauh dari penebusan, dosa. Dan setiap adegannya pun cukup jelas untuk membuat penontonnya menginterpretasikannya sendiri. Hal lain yang membuat film ini nyeni selain dari ceritanya adalah visualisasinya. Bagaimana film ini banyak membawa nuansa warna-warna neon yang cantik, baik dari lampu-lampu yang bergantung atau dari wallpaper yang nempel di dinding. Selain itu juga film yang didedikasikan untuk Alejandro Jodorowsky ini punya adegan-adegan sadis yang diperlihatkan cukup eksplisit. Saya juga suka dengan scoring-music gubahan Cliff Martinez yang unik dan terkesan meditative berpadu juga dengan musik-musik khas Thai. Sinematografi arahan Larry Smith juga tak kalah bagus, bagaimana pengambilan dan pergerakan kameranya berpadu dengan gaya artistik warna neon menjadikannya sesuatu yang begitu indah. Dari divisi akting, aktingnya Ryan Gosling juga menjadi salah satu yang paling dikritisi oleh kritikus luar. Akting Gosling yang dinilai hanya mengulang karakterisasi di film Drive dan tergolong dangkal. Harus diakui memang begitu, namun melalu tatapan kosongnya dan gaya berjalan yang tenang, saya rasa Gosling berhasil menggambarkan bagaimana seorang yang tengaj mencari tuan itu. Begitu juga Vithaya Pansringarm, memerankan tokoh yang dingin namun disisi lain punya sisi sadis tanpa ampun menghabisi para pendosa. Kristin Scott Thomas juga bagus memerankan sosok ibu dar Julian

Secara keseluruhan Only God Forgives adalah film yang bagus dengan rasa arthouse-nya yang dalam. Tidak sekedar kisah tentang pembalasan dendam, namun ini jauh lebih ke simbolisme bagaimana hubungan manusia dan tuhan. Berpadu cantik dengan visualisasinya lewat warna-warna cerah neon serta sudut-sudut kumuh jalan kota di Thailand dan adegan violence-nya yang semuanya itu menjadi sebuah kesatuan film yang begitu menghipnotis dalam durasi 90 menitnya.

8/10


No comments:

Post a Comment