February 6, 2014

Cutie and the Boxer (2013)

“Live is wonderful. Life should be positive. When it’s blown to pieces, that’s when it becomes art.” – Ushio Shinohara.

Cutie and the Boxer mengisahkan tentang kisah pahit manis cinta sepasang suami istri asal Jepang yang kini menetap di Amerika; Ushio Shinohara dan Noriko Shinohara, mereka berdua terpaut usia cukup jauh. Mereka berdua adalah seorang seniman lukis.

Film dokumenter ini disutradarai oleh Zachary Heinzerling yang juga sekaligus menjadi produser dan sinematografernya. Cutie and the Boxer nampak di atas kertas memang seperti sebuah film romansa. Bagaimana disini diperlihatkan sebuah kisah percintaan dua sejoli yang begitu manis. Bagaimana mereka yang mempunyai minat yang sama dibidang seni lukis, yang akhirnya dari itu tumbuh itu butir-butir cinta. Bagaimana mereka berjuang bersama mempertahankan bahtera rumah tangga mereka walau beberapa kali sempat dihadang masalah. Disinilah kita akan melihat arti sebuah cinta yang sesungguhnya, sebuah ikatan suami istri yang begitu harmonis dan hangat. Membuat siapa pun yang melihat kisah cinta mereka akan terpukai akan keagungan cinta.

Film yang pertama kali tayang di Sundance Film Festival tahun lalu ini mempelihatkan bahwa kedua suami istri ini sama sekali tidak memiliki masalah, bagaimana mereka saling bercakap-cakap dipenuhi canda tawa yang begitu hangat. Sama sekali tidak terlihat adanya aura kesedihan, kemarahan oleh pasangan lanjut usia ini. Namun seperti halnya keluarga lain, setiap keluarga pasti akan melalui masa-masa pahit manis sebuah keluarga. Dan itu tergambar unik lewat kemasan animasi hasil dari lukisan Noriko yang menggambarkan bagaimana ketika mereka pertama kali bertemu, punya anak, muncul percekcokan. Disini akan diperlihatkan bahwa untuk mencapai sebuah keluarga yang harmonis memang harus berjuang keras dan mengorbankan satu sisi.

Disamping kisah cinta mereka yang menari itu. Cutie and the Boxer juga punya hal menarik lain. Yakni lukisan mereka berdua. Ushio yang mempunyai cara unik dalam melukis yang mana dia melukis menggunakan sarung tinju yang sudah dicelupkan cat, dan itu langsung dihempaskannya ke kanvas layaknya seorang petinju. Dan viola lukisan itu begitu indah dan menarik. Selain itu Ushio juga punya keahlian dalam hal sculpture dengan membuat replica motor dan dinosaurus dalam bentuk unik. Sedangkan lukisan Noriko lebih berbentuk sebuah cerita dengan judul Cutie and Bullie lewat gambar-gambar yang juga unik. Satu lagi yang saya suka dari Cutie and the Boxer yakni scoring-music dan soundtracks gubahan Yasuaki Shimizu. Cutie and the Boxer masuk nominasi Oscar tahun ini untuk kategori Best Documentary Feature.

Secara keseluruhan Cutie and the Boxer adalah sebuah film dokumenter yang bagus. Bagaimana Zachary Heinzerling memberikan kita sebuah kisah hitam putih romansa dua orang sejoli terpaut usia jauh antara Ushio dan Noriko yang begitu jujur, hangat dan harmonis. Sebuah pesan mengenai arti sebuah relationship yang berhasil disampaikannya. Semakin bagus ketika kita diberikan keindahaan visual lewat lukisan mereka yang unik dalam durasi 85 menitnya.

7.5/10

1 comment: