January 18, 2016

Joy (2015)


Lagi dan lagi. Ini adalah kolaborasi ketiga David O. Russell bersama Jennifer Lawrence dan Bradley Cooper setelah Silver Linings Playbook (2012) dan American Hustle (2013). Sehingga muncul pertanyaan joke di luar sana: apakah Russell benar-benar bisa membuat film tanpa Lawrence dan Cooper? Well untuk kasus Joy ya lumayan lah, cuman Russell kurang beruntung tahun ini tidak seperti tiga filmnya sebelumnya termasuk The Fighters (2010) yang selalu memeriahkan nominasi Oscar, Joy nyatanya tidak.

Film semi-biopik ini diangkat dari kisah nyata seorang janda muda bernama Joy Mangano seorang inventor dan pengusaha yang pada masa dulunya tengah dirundung masa-masa sulit terkait pekerjaan dan keluarganya, kemudian untuk melewati masa itu dia terjun ke dunia bisnis membuat sebuah pembersih lantai inovatif yang belum pernah ada sebelumnya dan mencoba untuk memasarkannya kepada konsumen, namun jalan itu tidaklah mulus.

Jennifer Lawrence menampilkan performa yang apik di sini memerankan Joy, saya merasa bersimpati dengannya lantaran Joy yang harus menjadi tulang punggung semua awak keluarganya. Well sama seperti kisah from zero to hero lainnya, bagaimana Joy banting tulang kelelahan, mengalami kegagalan, dan menghadapi berbagai macam konflik intrinsik lainnya. Sama seperti kisah from nothing to something lainnya, film ini mengajarkan kita tentang kegigihan, pantang menyerah, dan pentingnya berjejaring ketika masuk dalam dunia bisnis ataupun hal lainnya. Di satu sisi saya merasa terinspirasi dari Joy. Cuman kayak ada yang kurang, ceritanya berasa kosong. Terus proses dari kegagalan menuju kesuksesannya berasa nggak real dan unbelievable, mungkin karena durasinya kurang panjang kali ya, makanya dijejalin gitu aja di durasi hampir dua jamnya. Chemistry Cooper dan Lawrence juga berasa ada yang absen deh. Sorry Joy. 3/5


No comments:

Post a Comment