Pages

February 5, 2016

A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence (2014)


A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence mengisahkan tentang Sam (Nils Westblom) dan Jonathan (Holger Andersson) sales penjual mainan yang menjajakkan ke sana kemari berupa; gigi vampir, topeng paman gigi satu, dan kantong ketawa. Tujuan mereka menjual mainan tersebut adalah agar bisa menghibur para pembelinya.

Film yang menjadi perwakilan Swedia pada ajang Oscar ini ditautkan sebagai film ketiga dari living trilogynya sutradara asal Swedia Roy Andersson setelah Songs from the Second Floor (2000) dan You, the Living (2007). A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence begitu abstrak dan absurd. Dijalankan dengan tempo yang begitu lambat perlahan, akan jadi tontonan obat tidur yang sangat jitu bagi sebagian orang. Pun juga dari segi penceritaan, film yang meraih Golden Lion – setara kayak best film – di Venice International Film Festival ini bertutur begitu surreal, dipenuhi dengan makna dan filosofis kehidupan yang tersirat. Sindiran kehidupan keseharian sosial sekarang ini. Ada pesan yang tersampaikan kepada saya, tapi ada juga yang tidak kebanyakannya, saya butuh perenungan yang dalam lagi rupanya agar bisa menangkapnya.

Seperti judulnya, namun dengan subjek manusia, film ini berisi tentang kontemplasi kehidupan manusia dan bagaimana menjadi manusia seutuhnya. A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence diisi dengan unsur komedi situasi dalam durasi 101 menitnya, bukan dari humor slapstick atau lainnya loh, yang memang tidak akan pernah membuat anda tertawa terbahak-bahak. Never. Contoh ketika pekerjaan Sam dan Jonathan yang menjual mainan bertujuan agar membuat orang lain bahagia namun di sisi lain justru mereka sendiri tidak bahagia. Muka pucat, kikuk, murung, canggung dll, itulah yang terlihat dari diri mereka berdua, sangat jauh dari kata bahagia. Hal itu justru membuat saya nyegir ketawa, walau secara gamblang sebenarnya itu tidak lucu. Secara teknis A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence hadir dengan production design yang bagus menurut saya, pun juga banyak adegan yang one long take. 3.5/5


No comments:

Post a Comment